Perjuangan Orang Hitam Amerika di Film Selma

Selma merupakan nama wilayah kecil di Amerika Serikat yang menyimpan banyak sejarah mengenai perjuangan orang-orang hitam Amerika untuk mendapatkan kebebasan memberikan suara. Kumpulan orang hitam yang diketuai oleh Dr. Martin Luther King, Jr ini harus melalui peristiwa ‘Bloody Sunday‘ dimana beberapa dari mereka dihajar habis-habisan oleh polisi berkulit putih dan orang berkulit putih lainnya.

Direktur Ava DuVernay cukup cerdik dalam memilih judul film. Dia lebih memilih “Selma” dibanding dengan kemungkinan yang orang-orang pikir akan jauh lebih menguntungkan seperti “King”. Dalam film “Selma”, Dr. King diperani oleh David Oyelowo, seorang aktor asal Inggris yang sudah memiliki banyak nominasi sebagai aktor atas namanya. Di film ini, dia sukses memerankan tokoh besar, melegenda dan banyak dihormati orang lain. Dia berhasil menghilangkan aksen British nya dan bisa membuat suara yang amat persis dengan mendiang Dr. King. Selain Oyelowo, beberapa aktor kenamaan lainnya seperti Tim Roth dan Tom Wilkinson juga turut andil dalam film fenomenal ini. Roth dan Wilkinson berperan sebagai Gubernur George Wallace dan Presiden Lyndon Johnson, secara berurutan. Mereka berdua berhasil memerankan tokoh yang menjadi lawan Dr. King dalam perjuangan mengusung ‘Equal Rights‘.

Masih banyak yang meragukan tingkat ketepatan film ini dengan peristiwa asli, namun DuVernay berhasil membuat para penonton takjub dengan keahlian dia menyutradarai film ini. Ikatan kerja yang baik antara DuVernay dan Oyelowo yang sebelumnya juga pernah bekerja sama di film “Middle of Nowhere” membuat kualitas film jauh lebih baik. DuVernay berhasil membuat para kritikus film ternganga karena sebelumnya dia tidak pernah menyutradarai film yang berhasil menjadi hits, dia selalu bekerja secara independen. Uniknya, dalam film ini DuVernay tidak hanya memfokuskan cerita ke perjuangan Dr. King untuk mendapat hak memberi suara, tapi dia juga memfokuskan cerita ke masalah rumah tangga Dr. King dengan istrinya, Coretta Scott (Carmen Ejogo). Film ini memberi tahu seberapa tegar Coretta sebagai istri dan seorang ibu dari anak-anaknya. Ejogo berhasil memerankan Coretta yang selalu mendapat ancaman terhadap anak-anaknya melalui telepon namun tetap tegar dan berusaha untuk selalu mendukung suaminya.

Dalam film “Selma”, kita bisa melihat jelas kekejaman orang kulit putih Amerika terhadap saudara se-negara mereka yang hanya berbeda ras. Orang kulit hitam Amerika selalu mendapat perlakuan yang tidak adil. Hal itu ditegaskan melalui adegan saat Annie Lee Cooper (Oprah Winfrey)  yang sedang mendaftarkan diri untuk menjadi pemilih, namun pihak otoritas malah memberinya pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab agar dia tidak bisa lolos. Selain itu, tindakan polisi kepada orang kulit hitam Amerika yang kejam lainnya ditampilkan dalam adegan saat Jimmie Lee Jackson (Keith Stanfield) dibunuh tepat dihadapan orang tuanya setelah berlari  dan bersembunyi dalam usaha untuk menyelamatkan orang tuanya dari tindakan kejam polisi Amerika. Adegan tadi bisa saja membuat anda menangis seperti saya yang sangat kaget melihat ketidak adilan yang merajalela di Amerika tahun tersebut.

Hasil kerja sinematografer, desainer kostum, penata musik dan orang yang mengedit film ini juga patut diacungi dua jempol. Mereka berhasil membuat film ini hidup dan membuat kita merasa tinggal di jaman tersebut. Musik yang digunakan juga sangat cocok untuk setiap adegan, terutama disaat para orang hitam melakukan march untuk melewati jembatan Edmund Pettus ke arah Montgomery sebelum terjadinya insiden Bloody Sunday.

Di akhir film, terdapat teks yang menjelaskan real-life masa depan dari setiap karakter yang diikuti oleh pidato Dr. King tentang semua manusia, baik hitam maupun putih adalah sama.

Secara menyeluruh, film “Selma” sangat bagus untuk ditonton dan sangat disayangkan jika tidak. Terlalu banyak moral hidup yang bisa dipelajari melalui film tersebut. Dan supaya makin banyak lagi orang yang tidak terlalu memusingkan mengenai perbedaan di setiap ras, seksual dan agama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s